gan

Senin, 28 Desember 2009

ACEH DAN GEREJA bag.2

Diposting oleh gan

[Nasional] FW: 17 Gereja ditutup Pemda Aceh

Ikranagara mailto:national@...
Wed Nov 13 15:03:01 2002

This is a multi-part message in MIME format.
------=_NextPart_000_00C8_01C28AE5.E75D7200
Content-Type: text/plain;
charset="iso-8859-1"
Content-Transfer-Encoding: quoted-printable
----- Original Message -----=20
From: Wita Hartanto <wita@...>
To:
Sent: Friday, October 18, 2002 8:50 AM
Subject: Penutupan gereja di Aceh
note : mari kita doakan.

17 Gereja Ditutup di ACEH Karena Syariat Islam
27/09/2002 Terangdunia.com Pada tanggal 19 Nov 2001 lalu telah terjadi
penutupan 17 (tujuh belas) gedung gereja di wilayah Kabupaten Aceh
Singkil. Penutupan dilakukan oleh Pemda setempat atas desakan dari para
ulama. Penutupan dilakukan secara paksa karena kalau tidak umat Kristen
akan menanggung resiko.
Adapun ke-17 gereja yang ditutup, yang sebenarnya sudah berdiri sejak
jaman penjajahan Belanda tersebut adalah sebagai berikut :
1. Gereja Kristen Pak Pak Daeri (GKPPD) Kab. Aceh Singkil, 12 buah
gedung gereja.
2. Huria Kristen Indonesia (HKI) Kab Aceh Singkil, 1 buah gedung gereja.
3. Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Kab Aceh Singkil, 1 buah gedung
gereja.
4. Gereja Katolik, Kab. Aceh Singkil, 3 buah gedung gereja.
Hingga saat ini sekitar 10 ribu Jemaat dari gereja-gereja tersebut saat
ini hidup dalam kegelisahan dan takut. Sebagian besar tidak berani
beribadah, sementara yang lain terpaksa melakukan ibadah diperkebunan
kelapa sawit.
Sementara itu sejak diberlakukannya Syariat Islam di Nangroe Aceh
Darussalam ternyata berdampak pada kebebasan beragama. Sosialisasi Pemda
setempat bahwa penerapan Syariat Islam tidak diberlakukan pada non
Islam, kenyataan dilapangan umat Kristen yang tidak mengenakan jilbab
dilempari.
Informasi lain, bahwa sekitar tahun 1988 di Aceh Tengah tela h terjadi
pembakaran terhadap gedung Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Hingga
saat ini jemaat yang ingin membangun kembali gedung gerejanya tidak
diijinkan. Demikian informasi dari Aceh.

BY GAN

ACEH DAN GEREJA

Diposting oleh gan

ni kutipan dri ACEH COMMUNITY(/www.acehforum.or.id/meunasah-dan-gereja-t5149.html).

Meunasah dan Gereja

Saya sering jalan-jalan ke kampung seberang dimana saya hampir tidak bisa menenukan Meunasah, dimana mana ada Gereja. Begitu sebaliknya di kampung saya.. diamana ada Meunasah.

Pada suatu hari saya harus ke Toilet (mereka menyebutnya toilet tempat buang air) Gereja untuk buang air karena sudah sangat mendesak. saya lihat ada seoarang cleaning service dengan pakaian yg bersih dan rapi berdiri di dekat sana dan saya menyapa, boleh pak? saya bertanya dengan sopan, oh silahkan.. jawabnya sambil tersenyum, lalu saya membuka pintu dan melihat begitu harum dan bersihnya toilet itu, saya menoleh ke belakang dan bertanya kembali ke cleaning service itu, wah pak bersih sekali toiletnya..., lalu bapak tadi terseyum sambil berkata, pak coba lihat ke lubang kakus (tempat buang air besar) lihat ke arah air itu, jika bapak bawa air itu ke lab dan diperiksa, mereka akan berkata air itu steril dan layak untuk diminum... sambungnya dahsyat!

Sejak itu saya terus teringat akan Meunasah di kampung saya, dimana WC (kita menyebutnya WC) meunasah di kampung saya sangat berbau pesing, bahkan 150 meter dan WC saya dapat menyium bau pesing dan bau kotoran yang sangat menyegat (putoh bulee idong). belum lagi didalam WC, mulai di depan pintu, joroknya bukan kepalang, kotoran manusia mulai yg kering sampai yg masih basah berserak-serak mulai dari depan pintu sampai ke lobang WC... kalau baunya sudah hal yg biasa kali, yg lebih parah lagi, puntung rokok betaburan di lantai, ternyata mereka merokok sambil buang air tuk mengilangkan bau kali ya?

Ada apa dengan Meunasah kita? ada apa dengan orang-orang muslim?
by gan

Senin, 07 Desember 2009

CERITA TRAGEDY SAMPIT

Diposting oleh gan

ni artikel dari:
Ryo Saeba
,
Thu, 01 Mar 2001 18:54:01 -0800


ni artikel penting bget ntuk dbaca buat pengetahuan,bukan untuk menghakimi ato memihak tpe sekedar introspeksi diri kita sebagai manusia yg jauh dri sempurna,dan peringatan untuk pemerintah yg kurang tegas dlam hukum dan pemerintahannya.....dsni tidak da yg nmaya jagoan ato menagya sendiri, INDONESIA adalah negara PANCASILA dan DEMOCRATIS yg punya berbagai agama, bukan negara AGAMAIS........so ni artikel q kutip dri seseorang, nikmati atu......?

BY GAN

Peristiwa Sampit dari kacamata "urang Bajar" <-- subject
Sampit yang baru-baru ini jadi berita hangat di negeri ini menjadi sebuah
kota yang digambarkan begitu menakutkan karena pertikaian etnis (saya
katakan di sini "pertikaian etnis" murni...tidak ada faktor SARA lainnya).
Masyarakat Dayak adalah masyarakat tradisional yang memegang teguh harkat
dan harga diri. Sejak "peradaban" masuk ke dalam kehidupan mereka, budaya
"kekerasan" yang dahulu secara turun-temurun mulai ditinggalkan.
Gambaran kasar tentang orang dayak secara umum, dilihat dari pengalaman saya
dan cerita dari beberapa orang yang sempat saya ajak bicara adalah; Orang
Dayak adalah masyarakat tradisional dan mempunyai sifat pemalu terhadap
pendatang. Tidak jarang saya jumpai masyarakat Dayak yang lari bersembunyi
dan hanya berani mengintip dari balik papan dinding rumahnya bila melihat
orang asing datang mendekat.
Namun, masyarakat Dayak mempunyai sistem kekerabatan dan persatuan yang kuat
antar masyarakat Dayak di seluruh pulau Kalimantan (termasuk Dayak di
wilayah Malaysia).
Saya punya pengalaman pribadi saat mencoba membuat karya foto tentang mereka
(Dayak)...ternyata sulit sekali melakukan pendekatan kepada mereka agar
bersedia di foto. Kebetulan saya ingin sekali membuat foto "portraiture"
sosok orang Dayak. Hehehehe...udah abis sebungkus rokok kretek yang terpaksa
saya beli (kan rokok gue bukan kretek) buat melakukan aksi
perdekatan...eehh...hasilnya nggak sesuai dengan keinginan....hehehehehe.

Kenapa orang Dayak jadi beringas terhadap etnis Madura..?????
Terus terang, sebagai keturunan suku terdekat dari suku Dayak (Banjar), saya
sendiri kaget melihat keberingasan mereka....ternyata ada benarnya juga
cerita "Dayak makan orang" yang dulu sekali pernah saya dengar...hehehehe.
Banyak sebab yang membuat mereka seakan melupakan asazi manusia, baik sebab
langsung maupun tidak langsung.
Masyarakat Dayak di Sampit seperti selalu "terdesak" dan selalu mengalah dan
memang mereka lebih suka memilih mengalah.
Dari kasus pelarangan menambang intan di atas "tanah adat" mereka sendiri
karena dituduh tidak memiliki izin penambangan, sampai kampung mereka harus
berkali-kali berpindah karena harus mengalah dari para penebang kayu yang
terus mendesak mereka makin ke dalam hutan. Sayangnya, kondisi ini
diperburuk lagi oleh ketidakadilan hukum yang seakan tidak mampu menjerat
pelanggar hukum yang menempatkan masyarakat Dayak menjadi korban kasus
tersebut. Tidak sedikit kasus pembunuhan orang dayak (sebagian besar
disebabkan oleh aksi premanisme Dayak-Madura) yang merugikan masyarakat
Dayak karena tersangka (kebetulan orang Madura) tidak bisa ditangkap oleh
aparat yang "katanya" penegak hukum.

Dalam keseharian Masyarakat Dayak, kehidupan mereka ternyata jauh dari
anggapan kita yang mengira bahwa mereka itu beringas. Mereka ternyata sangat
pemalu, menerima para pendatang, dan tetap menjaga keutuhan masyarakatnya
baik religi dan ritual mereka. Mereka tidak pernah mengganggu para penebang
kayu yang mendesak mereka untuk terus mengalah. Mereka tidak pernah
menentang anggota masyarakatnya yang ingin masuk agama yang dibawa oleh
orang-orang pendatang. Mereka dengan ringan-tangan membantu masyarakat
sekitarnya. Mereka tidak pernah membawa mandau, sumpit, ataupun panah ke
dalam kota Sampit untuk "petantang-petenteng".

Etnis madura yang juga punya latar belakang budaya "kekerasan" ternyata
menurut masyarakat Dayak dianggap tidak mampu untuk beradaptasi (mengingat
mereka sebagai "pendatang"). Sering terjadi kasus pelanggaran "tanah
larangan" orang Dayak oleh penebang kayu yang kebetulan didominasi oleh
orang Madura. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu "perang antar etnis
Dayak-Madura".

Entah bagaimana cara mereka (Dayak) membedakan suku Madura dengan suku-suku
lainnya, yang jelas suku-suku lainnya luput dari "serangan beringas" orang
Dayak.
Banyak yang mengaitkan peristiwa-peristiwa aneh selama "perang" tersebut
dengan kepercayaan animisme Dayak (Kaharingan). Banyak kolega-kolega saya
yang baru pulang dari Sampit menceritakan keberingasan orang Dayak dan
peristiwa-peristiwa aneh selama "perang" tersebut, sampai pada mitos
masyarakat Dayak tentang "Panglima Burung" yang mampu memenggal kepala orang
tanpa menyentuh sedikit-pun. Yang perlu diketahui adalah; saat ini di Sampit
bukan saja masyarakat dayak Sampit yang berada di sana, tetapi juga ada 5
suku besar Dayak lainnya dari beberapa propinsi di pulau Kalimantan (saya
nggak tau apakah Dayak di wilayah Malaysia juga ada....kalau ada jadi total
6 suku besar). Bayangkan, masyarakat Dayak yang sebelumnya bukan masyarakat
mayoritas di sana, saat terjadi "perang" jumlah mereka berlipat ganda.
Dari riwayat budaya Dayak, kalau 6 suku tersebut sudah berkumpul, berarti
PERANG BESAR...!!

Pengungsian besar-besaran masyarakat suku lain (selain Dayak dan Madura)
hanya dikarenakan rasa ngeri melihat "perang" dan lumpuhnya perekonomian
Sampit. Alhamdulillah, beberapa rekan saya di sana (kebetulan bukan suku
Madura) masih aman-aman saja. Suku Dayak tidak merusak Gereja, Mesjid, atau
rumah peribadatan lainnya. Bahkan ada cerita yang mengabarkan bahwa mereka
(Dayak) tidak menyerang orang (madura) yang sempat bersembunyi di dalam
Masjid atau Gereja.

Kenapa Madura..???
Dari hasil pengamatan saya, dan dari cerita rekan-rekan saya, masyarakat
suku Madura banyak "petantang-petenteng" di sana, bahkan bukan cuma di
Sampit...di Banjarmasin-pun mereka terkenal dengan sifat mereka itu.
Penilaian ini bersifat menyamaratakan anggapan "kekerasan" suku Madura
lhoo...memang tidak semuanya begitu. Dari cara mereka melakukan usaha dalam
bidang perekonomian saja, mereka terkadang dianggap terlalu "kasar" oleh
sebagian besar masyarakat Dayak, bahkan masyarakat Banjar sekalipun. Banyak
cara-cara pemaksaan untuk mendapatkan hasil usaha kepada konsumen mereka.
banyak pula tipu-daya yang mereka lakukan. Sekali lagi, tidak semua suku
Madura bersifat seperti ini.
Jadi, berita atau anggapan tentang kecemburuan sosial-ekonomi yang menjadi
penyebab pecahnya "perang" tersebut dari hasil pengamatan dan penilaian saya
adalah TIDAK BENAR.
Salah satu contoh yang pernah saya alami sendiri :
Saat turun dari Bis di Sampit (sekitar tahun 1993), tas saya yang cuma satu
dipaksa untuk diangkatkan oleh seorang pemuda dengan logat Madura-nya yang
kental. Dengan dalih "bisa saya bawa sendiri" saya coba menolak dengan halus
tawaran jasa porter tersebut. tapi dengan wajah tak bersahabat dan dengan
sedikit membentak, pemuda itu menarik tas yang saya genggam sambil berkata
dengan nada kasar "ini sudah peraturannya..! harus dibawakan". Nah lhoo...!!
peraturan dari mana..?? dari hongkong..??? hehehehe. Yahh... daripada cari
penyakit di kampung orang, saya terpaksa cari jalan damai saja lahh. Dan
sialnya, dia minta uang jasa sebesar Rp 10.000,-...!! EDANN..!! di air-port
aja gue cuma ngasih goceng..!! hahahahaha.

Masyarakat Dayak tidak pernah peduli dengan nilai nominal. Mereka bisa saja
dengan suka rela ber"barter" dengan para pendatang tanpa proses
perpindah-tangannan uang. Mereka lebih memilih barter dengan kopi, gula,
garam, atau bahkan sebungkus rokok.
Penjarahan yang terjadi di Sampit lebih banyak dilakukan oleh suku-suku
pendatang lain yang tidak menjadi sasaran amuk suku Dayak

Sekali lagi.....tulisan ini cuma bertujuan untuk menjelaskan keadaan Sampit
saat ini khususnya budaya orang Dayak, dan tidak ada maksud apapun. Sekedar
informasi, waktu perjalanan darat dari Banjarmasin-Sampit kira-kira 24
jam...non-stop. Alhamdulillah di Banjarmasin masih "aman-terkendali"
(hehehe....pake bahasa laporan pandangan mata kaya' di Radio....hehehe).
Sebenernya pengen sih cerita keanehan-keanehan yang terjadi di sana...tapi
saya nggak liat sendiri sih...jadi belum yakin banget kebenarannya. Yang
pasti, legenda "Panglima Burung" sedang trend di Banjarmasin...hehehehehe.


TAMBAHAN :
Sejak kecil, saya pernah mendengar istilah masyarakat Dayak yaitu;
"Mayau",atau "Bamayau" (ber-mayau/melakukan Mayau). Mayau digambarkan
sebagai "perang" yang seakan mewajibkan memotong salah satu anggota tubuh
musuh,
terutama KEPALA..!! ck..ck..ck.
Sampai sebelum pecahnya "perang" antar etnis Dayak-Madura, saya tidak pernah
mendengar, apalagi melihat Mayau tersebut, sehingga dengan berjalannya waktu
hal tersebut hampir saya lupakan. Begitu pecahnya "perang" tersebut, saya
terpaksa kembali mengingat cerita-cerita leluhur saya tentang Mayau yang
digambarkan begitu sadis, bengis, beringas...atau apapun kata-kata yang bisa
mewakili kebiadaban Mayau tersebut.

Dulu waktu saya kecil, para orang tua sering menakut-nakuti anaknya dengan
Mayau...."Awas jangan main jauh-jauh, nanti ada Mayau". Nahhh....berarti
sudah sejak dulu leluhur saya tahu bagaimana seramnya Mayau tersebut, cuma
namanya juga anak-anak, mana tau Mayau kalau belum melihat...hmmmm.

Pada awalnya pecah "perang" tersebut, selama 2 hari kota Sampit dikuasai
oleh suku Madura, yang kabarnya sambil mengancam masyarakat sekitar yang
kebetulan suku Banjar, China, Jawa, dan Bugis. Entah bagaimana kejadian
awalnya sampai suku Dayak merasa perlu untuk turun-tangan menyelesaikan aksi
tersebut dan membalas dengan aksi yang lebih kejam lagi.

tambahan mengenai Panglima Burung;
Panglima Burung adalah salah satu tokoh yang berwibawa, sakti mandraguna,
dan penyabar....namun dia akan keluar dari persembunyiannya apabila batas
kesabarannya sudah sampai titik terendah dari toleransi. Panglima Burung
digambarkan sebagai tokoh gaib karena hanya masyarakat Dayak yang tahu
bagaimana memanggil (menghadirkan)-nya. Disamping memiliki pasukan sakti,
Panglima Burung dikabarkan juga memiliki ramuan sakti berupa minyak oles
yang disebut "Minyak Bintang". Minyak Bintang dipercaya memiliki khasiat
yang dapat membuat seseorang kebal dan dapat menyembuhkan luka dalam waktu
sekejap, bahkan membangkitkan kembali pasukan yang tewas saat perang.
ramuan ini akan manjur dan bekerja apabila bintang di langit sudah
kelihatan.
Entah kebetulan atau bukan, selama "perang" tersebut, langit pulau
Kalimantan pada malam hari tampak cerah sekali. Bintang-bintang di langit
seakan bersinar terang pada tiap malam.

Terlepas dari segala macam legenda atau bahkan mitos masyarakat suku Dayak
dari mulai Panglima Burung, minyak bintang, sampai dengan Mayau, rasanya
perlakuan mereka saya rasakan sudah diluar batas-batas kewajaran. Entah
kejadian dan alasan apa yang menimbulkan habisnya kesabaran masyarakat Dayak
terhadap masyarakat Madura di Sampit, rasanya tindakan shock therapy Mayau
bukan jalan keluar yang manusiawi. Dan, rasanya tindakan balas dendam Carok
ala Madura-pun bukan jalan keluar yang bijak. Semoga kedua belah pihak dapat
belajar dari peristiwa ini, dan tidak ada lagi kejadian "sebelas kali
berjanji, sebelas kali mengingkari". Terlepas mana pihak yang salah,
"perang" selalu membawa penderitaan dan trauma yang berkepanjangan.

;> SAYA MOHON MAAF KLO DA YG TERSINNGUNG DGAN ARTIKEN NI,SEKALI LGI NI UNTUK KEDAMAIAN DI NEGRI HTA

GKJW PANTI ASUHAN { BETHESDA }

Diposting oleh gan

Panti Asuhan Bethesda Tulungagung sudah 41 tahun menyelenggarakan pelayanan terhadap para anak papa yaitu anak-anak dari keluarga di bawah garis kemiskinan dan keluarga berantakan (broken home) akibat masalah ekonomi, terkena pemutusan hubungan kerja dan masalah lain.

Panti asuhan (PA) ini satu-satunya di lingkungan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang terdiri atas 154 jemaat gereja Jawa di Jawa Timur dengan 138.000 warga. Beberapa Majelis Jemaat memprogramkan kunjungan ke PA Bethesda.

Yang berkunjung dan mengadakan kebaktian serta bakti sosial di sana dalam rangka Natal dan Tahun Baru, antara lain sejumlah warga Jemaat Sukun (Malang), Kertosono, Karangploso (Malang) dan pemuda Jemaat Mojokerto.

Setiap bulan yayasan harus menutup kebutuhan dana bagi 30 anak asuh (TK 2, SD 8, SMP 6, SMK 7, mahasiswa PT 4 di Yogya, Malang dan Tulungagung) beserta 2 pengasuhnya dan seorang pembantu rumah tangga panti. Kebutuhan setiap bulan rata-rata Rp 7 juta. Donatur tetap hanya Yayasan Dharmais, Jakarta.

Juli, Agustus dan Desember biasanya terjadi pembengkakan pengeluaran dana untuk sekolah dengan berbagai pungutan termasuk wajib beli buku pelajaran dan lembar kerja siswa (LKS). Desember juga perlu dana untuk perayaan Natal serta Tahun Baru.

World Vision International (WVI) yang bertahun-tahun menjadi penyandang dana, sejak 2003 tidak lagi mensuplai bantuan karena dana mereka dialihkan ke Indonesia bagian timur. Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) Jakarta masih membantu sampai sekarang sejumlah Rp 1.250.000/bulan untuk bantuan pangan 25 anak @ Rp 50.000. Sesekali ada bantuan dari Departemen Sosial. Bantuan terbanyak dari para donatur yang datang tak terduga.

Sejak didirikan oleh GKJW dan diresmikan Penjabat Bupati Tulungagung, R. Soendarto, dalam rangkaian perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus 1967, Panti Asuhan Bethesda berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah yang lain sampai mempunyai rumah sendiri yang mulai ditempati awal 1986.

Pdt. Soedarman (almarhum, berpulang 1982 dalam usia 58 tahun) sebagai pendeta GKJW di Jemaat Tulungagung yang memprakarsai pendirian panti, terpanggil ikut memecahkan masalah sosial waktu itu berupa banyaknya anak-anak telantar akibat peristiwa G30S/PKI tahun 1965.

Gagasan Pdt. Soedarman diwujudkan pertama kali di Trenggalek (30 km sebelah barat Tulungagung) dengan membuka Panti Asuhan GKJW di sana pada 1 September 1966. Pada waktu itu kelompok warga GKJW di Trenggalek merupakan bagian dari GKJW Jemaat Tulungagung. Karena Panti Asuhan Trenggalek kurang menggembirakan perkembangannya, ada gagasan memindahkan ke Tulungagung.

Bethesda adalah tempat pemandian di Yerusalem yang mempunyai lima serambi cukup luas. (Yoh.5:2, dst.) Istilah ini bentuk Yunani dari kata Aram bet hesda berarti rumah belas kasihan. Ada yang menyebut bet ‘esyda yang berarti rumah pancuran. (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I, 1992)

Dari Jalan Diponegoro Tulungagung, panti pindah ke Kampungdalem. Dari situ kemudian panti boyong ke Kelurahan Bago menempati rumah keluarga Anwar yang tinggal di Cimahi, Jawa Barat.

Kepindahan yang terakhir ini terjadi 1977 saat Panti Asuhan Bethesda nyaris dibubarkan, karena kehabisan dana. Pdt. Soedarman yang menjadi ketua pengurus panti, melalui wartawan di Tulungagung membeberkan kisah sedih ini di Harian Umum Sinar Harapan Jakarta. Sambutan pembacanya sungguh luar biasa dan di luar dugaan.

Keluarga Anwar yang muslim, menyerahkan rumahnya di Bago untuk dikontrakkan dengan tarif khusus selama 10 tahun sampai dengan 1987. Saat itu bantuan dari para dermawan seluruh tanah air, terus mengalir.

Sementara itu meskipun di Sinar Harapan ditulis lagi bahwa panti asuhan satu-satunya di kota Tulungagung ini tidak jadi gulung tikar, bantuan masih terus mengalir. Bahkan dari Irian Jaya dan juga dari dermawan muslim serta agama lain.

Ketika kehidupan anak-anak dalam panti normal, kesehatan Pdt. Soedarman justru tidak normal. Dia sering sakit sampai akhirnya dokter meminta agar pendeta yang berdedikasi tinggi ini beristirahat total karena hepatitis. Ini terjadi mulai 1979.

Sesuai anjuran Majelis Agung (Sinode) GKJW agar pelayanan social ditangani pengurus yang terpisah dari kepengurusan gereja, dibentuklah Yayasan Bethesda dengan Akta Notaris di Kediri No. 19 pada 17 Agustus 1980. Pendiri Yayasan adalah Pdt. Soedarman, M. Harjono Dwidjokoesoemo, Ny. Soegijati Soerana, Sumilan, Sumadi, Sri Sumani, Suleman Hadi, Koesdarjono, Suwoto, Suharsono, Wardhani Tjiptowardono, Moeljosoeseno, Mulyani, Pudji Krisanto, dan M. Tasahoedi.

Dari dana yang masih terus mengalir dari para dermawan, secara bertahap pembangunan asrama di atas tanah milik GKJW muali April 1982, dilaksanakan. Namun sebulan setelah meletakkan batu pertama, Pdt. Soedarman dipanggil Bapa pulang ke rumah-Nya.

Pembangunan berlanjut. Empat tahun setelah peletakan batu pertama, asrama bisa ditempati anak-anak. Pembangunan asrama berukuran 9 m x 25 m menghabiskan dana Rp. 75 juta lebih saat itu.

Anak-anak bersama Pak dan Bu Yakub saat syukuran HUT ke-41 PA Bethesda Tulungagung sekaligus reuni alumni.

Anak-anak bersama Pak dan Bu Yakub saat syukuran HUT ke-41 PA Bethesda Tulungagung sekaligus reuni alumni.

Aneka Mukjizat
Dalam menapaki sejarahnya, keluarga Panti Asuhan Bethesda merasakan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang benar-benar hidup. Tuhan yang berkarya. Tuhan yang baik kepada semua orang, juga kepada anak-anak Panti Asuhan Bethesda. Kebutuhan panti asuhan dipenuhi-Nya. Bahkan melimpah!

Sebagian limpahannya diteruskan kepada para tetangga di Kelurahan Kenayan dalam bentuk bakti sosial kesehatan dan kegiatan bersama masyarakat sekitar untuk menandai HUT Panti Asuhan Bethesda sekaligus merayakan HUT kemerdekaan RI. Aula panti juga menjadi tempat kegiatan warga RT dan RW setempat, antara lain sebagai tempat pemungutan suara saat pemilihan umum.

Lepki yang kemudian digantikan WVII dan Yayasan Dharmais adalah penyandang dana tetap panti asuhan selama bertahun-tahun. Mulai Oktober 2003, tinggal Yayasan Dharmais dan Yayasan Manna Bandung, Jawa Barat, yang mengirimkan bantuan rutin selain terkadang dari Pemerintah.

Yayasan harus berusaha menggali potensi di kalangan masyarakat, terutama di lingkungan GKJW dan gereja-gereja lain. Kebutuhan rutin sebulan tahun 2008 rata-rata Rp 7 juta, sedang bantuan rutin hanya sekitar Rp 1,5 juta.

Sebagai manusia, tentu terkadang pengurus Yayasan menampilkan wajah pesimis. Namun iman mereka cukup kuat bahwa Tuhan tidak akan berlepas tangan. “Mintalah, maka kalian akan menerima. Carilah, maka kalian akan mendapat. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan untukmu,” bunyi firman dalam Injil Matius 7:7 yang menyemangati para pengurus, pendiri yayasan, dan dewan penyantun.

Kejadian di luar logika sering terjadi di Panti Asuhan Bethesda. Tatkala pengurus membutuhkan sesuatu untuk kepentingan anak-anak sementara uang di kas tiada untuk itu, datanglah orang membawa dana sejumlah yang dibutuhkan. Langka tapi nyata!

Awal 1986 menjelang penghuni Panti Asuhan Bethesda boyong ke asrama baru yang dibangun Yayasan selama empat tahun di Kenayan, listrik PLN belum bisa menyala. Instalasi sudah terpasang, tinggal menyambung dengan kabel ke tiang listrik di tepi jalan (gang) depan asrama. Namun karena Yayasan belum menyetorkan uang Rp. 400.000 ke PLN, penyambungan tidak bisa dilakukan.

Esoknya panti ketamuan utusan panitia perayaan Natal dan Tahun Baru dari Kediri, 30 km utara Kota Tulungagung. Mereka menyerahkan bantuan yang terkumpul dari peserta perayaan. Jumlahnya? Tepat empat ratus ribu rupiah. Yang mengagumkan, uang itu dari panitia perayaan Natal dan Tahun Baru keluarga Kristiani PLN se-eks Karesidenan Kediri. Benar-benar suatu mukjizat!

Suatu saat televisi hitam-putih panti sudah sering rewel. Padahal anak-anak memerlukan hiburan seusai belajar atau pada malam Minggu dan Minggu siang. Rapat Yayasan memutuskan, dikeluarkan Rp 375.000,00 untuk membeli pesawat televisi berwarna 14 inci.

Seminggu setelah pembelian televisi, panti ketamuan para pemuda dan mahasiswa GKJW Surabaya. Mereka mengadakan kebaktian bersama anak-anak.. Terkumpul persembahan yang diserahkan kepada PA. Jumlahnya Rp. 380.000,00, lebih sedikit dari uang yang dikeluarkan Yayasan untuk pembelian pesawat televisi berwarna.

Salah satu berkat besar yang diterima panti asuhan ini adalah mengantarkan seorang anak asuhnya, Kristanto, lulus sarjana teologi strata I, Fakultas Theologia, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogya.
Saat ini Kristanto menjadi vikar (calon pendeta) di GKJW Jemaat Rungkut, Surabaya setelah enam bulan di Jemaat Pare, Kediri. Ia akan disusul Agus Supriyono, juga anak PA Bethesda, yang saat ini duduk di semeseter VIII Fakultas Theologia. UKDW.( gkjw.web.id/satu-satunya-di-gkjw-panti-asuhan-bethesda-bagi-anak-papa)

BY GAN

Senin, 05 Oktober 2009

SURAT KEPUTUSAN OLEH PGI

Diposting oleh gan


Nomor: 0055/PGI-XII/2000                   20 Januari 2000
Hal: Tanggapan atas Sikap dan Pandangan terhadap Kerusuhan
Maluku/Maluku Utara

Yang terhormat Sdr Dr. Amien Rais
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
Di Jakarta

Dengan hormat,

Kami sampaikan salam sejahtera kepada Saudara dengan harapan
kiranya. Saudara diberi hikmah dan kebijaksanaan oleh Allah
Yang Maha Esa untuk melaksanakan tugas-tugas negara serta
kemampuan untuk mewujudkan harapan-harapan segenap rakyat
Indonesia, baik waktu sekarang ini maupun dimasa datang,
sesuai dengan jabatan yang dipercayakan segenap rakyat
Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Saudara hadir dan menjadi pembicara pada
sebuah acara yang menurut informasi dilakukan untuk menyatakan
solidaritas kepada warga masyarakat beragama Islam yang
disebut-sebut sebagai korban pembantaian, perkosaan dan
sebagainya di Maluku khususnya di wilayah Halmahera
Utara,Propinsi Maluku Utara.

Kami mengikuti dengan cermat seluruh pemberitaan media massa
dan informasi mengenai hal-hal yang Saudara kemukakan pada
saat itu dan kemudian yang Saudara sampaikan kepada media
massa pada sejumlah kesempatan berikutnya dalam bentuk
wawancara atau pernyataan pandangan dan sikap Saudara.

Berkaitan dengan itu perkenankan kami menyatakan beberapa hal
sebagai berikut:

1) Pernyataan-pernyataan, pandangan dan sikap Saudara mengenai
kerusuhan di Propinsi Maluku umumnya dan di Halmahera Utara,
Propinsi Maluku Utara khususnya, membuat masyarakat terkejut
dan gelisah karena Saudara tidak memposisikan diri sebagai
pimpinan lembaga tertinggi negara. Warga masyarakat yang
beragama Kristen khususnya merasa mengalami fait-accompli oleh
pernyataan/pandangan Saudara yang menempatkan umat Kristen di
wilayah Halmahera Utara sebagai penganiaya, pembantai dan
sumber kekerasan terhadap umat Islam.

2) Maafkan kami jika terpaksa menilai bahwa pernyataan/
pandangan Saudara mengenai kerusuhan khususnya yang terjadi
berhari-hari sejak 26 Desember 1999 hingga Januari 2000 di
kota Tobelo dan sekitarnya adalah hal yang sangat gegabah
karena Saudara lalai mendasarkan diri pada sejumlah fakta
objektif.
Hal objektif pertama yang Saudara lalaikan adalah fakta bahwa
apa yang terjadi di Tobelo dan sekitarnya adalah suatu
lingkaran kekerasan yang menjebak warga masyarakat, baik
masyarakat yang beragama Islam, Kristen maupun yang masih
menganut agama-agama suku.
Hal objektif kedua yang juga Saudara lalaikan adalah bahwa
kekerasan di Tobelo dan sekitarnya bukan fenomena independen
dan partial. Karena itu sangat naif untuk menilai apa yang
terjadi di Tobelo terlepas dan berbagai konflik lain di pulau
Ternate, pulau Tidore, di semua bagian pulau Halmahera dan
bahkan di Propinsi Maluku.
Hal objektif ketiga yang Saudara lalaikan adalah bahwa
kerusuhan di Propinsi Maluku dan Maluku Utara telah melibatkan
dan mengorbankan rakyat yang Saudara pimpin tanpa pandang
latar belakang agama mereka. Karena itu maaf jika kami katakan
bahwa Saudara telah keliru bersikap seakan-akan golongan
tertentu saja yang menjadi sasaran aksi-aksi kekerasan yang
terjadi.
Saudara nampaknya tidak tahu atau tidak perduli pada fakta
bahwa telah terjadi "pembersihan" desa-desa/pemukiman di pulau
Tidore, Ternate, di wilayah Halmahera Tengah dan ke arah
desa/pemukiman di jazirah selatan pulau Halmahera yang
penduduknya beragama Kristen. Hal ini terjadi sejak akhir
September-awal Oktober 1999. Beberapa bulan sebelum itu,
golongan tertentu di Sanana, kepulauan Sula, Maluku Utara,
telah terusir keluar dari wilayah pemukimannya. Apakah mereka
yang menjadi korban sia-sia itu bukan rakyat Indonesia?

3) Kami ingin sampaikan kepada Saudara bahwa aksi-aksi
kekerasan di Maluku Utara dimulai dari peristiwa yang jauh
dari nuansa pertentangan antar umat beragama, pun dari waktu
ke waktu alasan-alasan dan warna agama terus dipaksakan
mewarnai kekerasan. Mengenai hal ini Saudara perlu
memperhatikan beberapa fakta sebagai berikut:

a. Bahwa serangan pertama (yang membuka babak kerusuhan di
Maluku Utara) ke desa-desa Kecamatan Kao oleh penyerang yang
berasal dari Malifut (beragama Islam) dilawan juga oleh warga
Kao yang beragama Islam. Masalahnya bersumber pada policy
Pemda mengenai pemekaran Kecamatan yang ditolak oleh sebagian
masyarakat yang telah terikat pada kesepakatan Adat.

b. Ketika serangan berikut terjadi sementara warga Kao yang
beragama Kristen melaksanakan kebaktian Minggu, yang
menghadapi serangan itu adalah warga Kao lainnya yang tidak
beribadah di hari Minggu dan mereka adalah Saudara-saudara
yang beragama Islam.

c. Serangan balasan terhadap warga asal Makian di Malifut yang
mengakibatkan banjir pengungsi asal Makian ke Ternate dan
Tidore misalnya melibatkan warga Kao, baik yang beragama
Kristen maupun Islam.

d. Kekerasan pertama yang meletus di Tidore dibuka oleh
pembantaian seorang pendeta Gereja Protestan Maluku yang
diundang Kapolsek menghadiri sebuah acara bersama para anggota
Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Camat dll.).

e. Ketika penghancuran gedung-gedung gereja (14 buah gedung
gereja hancur) dan kekerasan terhadap warga yang beragama
Kristen terjadi di kota Ternate misalnya, ada cukup banyak
warga beragama Muslim di sana yang bangkit melawan aksi-aksi
kekerasan tersebut.

f. Hingga konflik pecah di Tobelo tanggal 26 Desember 1999
(didahului dengan berbagai isu dan provokasi di hari-hari
sebelumnya), 34 gedung gereja telah hancur terbakar paling
kurang di 15 lokasi kerusuhan.Fakta-fakta ini nampaknya tidak
diperhatikan oleh Saudara atau Saudara membiarkan diri
diselubungi oleh informasi-informasi sepihak dan subjektif
serta diberati oleh kepentingan-kepentingan politik golongan
yang jelas-jelas berperspektif sangat sempit. Ini hanya
sedikit dari fakta yang dapat kami beberkan untuk menopang
agar Saudara bersikap objektif dan berani terlibat
menghentikan kerusuhan melalui prakarsa dan langkah-langkah
strategi dan effektif yang dimungkinkan oleh posisi dan
kewenangan Saudara.

4) Kami harus menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan Saudara
mengenai kerusuhan di Halmahera Utara jelas-jelas telah
memojokkan warga negara yang beragama Kristen dan memberi
insinuasi pada pertentangan warga berbeda agama di negara ini.
Karena itu tesis Saudara semula bahwa kerusuhan di Indoensia
disebabkan karena ada banyak "daun-daun atau rumput kering",
tidak valid lagi. Fakta di lapangan membuktikan bahwa akar
kerusuhan bukanlah hanya karena adanya daun-daun atau
rumput-rumput kering tapi juga karena ada tindakan politisasi
terhadap "daun-daun atau rumput-rumput kering" itu. Kami
sangat kuatir apa yang Saudara ucapkan sejak pertemuan di Tugu
Monas, Jakarta, adalah salah satu dari sekian tindakan
politisasi yang akibatnya hanya mengorbankan rakyat yang
percaya kepada Saudara sebagai Ketua Lembaga Tertinggi Negara,
MPR RI. Kami selalau berbaharap bahwa dari Saudara sebagai
Ketua MPR RI, selalu datang pembelaan terhadap warga
negara/rakyat Indonesia yang mengalami penistaan, penderitaan,
fitnah dan kezaliman, tanpa pandang suku, agama, ras dan
golongannya.

5) Lingkaran kekerasan di Maluku dan Maluku Utara akan dapat
diputuskan jika semua terutama Saudara sebagai Ketua MPR RI
berusaha dengan wewenang dan kepercayaan rakyat yang Saudara
miliki, mengeliminasi semua fenomena politik dan dramatisasi
angka-angka korban yang hanya akan menjadikan kerusuhan
konflik langgeng dan rakyat - tanpa pandang agama - menjadi
korban sia-sia. Selain itu jika Saudara berkenan, kualitas dan
kedudukan Saudara sebagai Ketua MPR sangat memungkinkan
Saudara untuk berada di luar dan membongkar fenomena
konspirasi politik di kalangan elit, yang berada di balik
kerusuhan dan pelanggengan penderitaan rakyat. Hal ini lebih
bermanfaat Saudar lakukan karena hal ini menjadi harapan
rakyat banyak termasuk kami dan Gereja-gereja di Indonesia.

6) Kami harapkan semua langkah yang dilakukan Pemerintah
Pusat/Daerah, lembaga-lembaga legislative di pusat dan daerah,
TNI/POLRI, semua kelompok masyarakat, pimpinan dan tokoh
lembaga-lembaga agama Islam dan Gereja-gereja, dapat secara
sistematis memberi manfaat bagi terhentinya kekerasan
individual dan kolektif serta membuka peluang bagi
pemberdayaan masyarakat serta dialog-dialog ke arah
rekonsiliasi dan perdamaian yang langgeng. Kami juga berharap
kerusuhan sejenis tidak lagi meletus di bagian-bagian lain
tanah air kita. Jika di luar kemampuan kita sekalian kerusuhan
masih berlanjut atau meledak di tempat lain, perkenankan kami
menyarankan agar Saudara dalam kedudukan sebagai Ketua MPR RI,
bersedia menghimpun data-data sebanyak mungkin dari berbagai
pihak sebelum melakukan penilaian dan menyatakan pandangan
serta sikap Saudara. Saudara tentu paham bahwa rakyat biasa
tidak bisa secara lugas membedakan peran Saudara sebagai
pribadi, tokoh agama Islam, tokoh Muhammadyah atau Ketua MPR
RI. Kami yakin Saudara dapat memahami keadaan objektif rakyat
Indoensia sebagai keseluruhan yang sedang menderita. Mereka
semua menggantungkan harapan kepada Saudara sebagai Ketua MPR
RI dan terbantu jika Saudara menjadi lebih arif dan mampu
memberi jalan keluar yang tepat kepada rakyat untuk terbebas
dari neraka kerusuhan di Maluku/Maluku Utara atau di mana
saja. Untuk melanjutkan keinginan baik yang telah kami
tunjukkan kepada Saudara, kami selalu bersedia membantu
Saudara dengan sepenuh hati dan pikiran.Terimakasih atas
perhatian Saudara.

Teriring salam dan hormat kami, Atas nama
MAJELIS PEKERJA HARIAN
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA
DI INDONESIA

Pdt Dr Sularso Sopater Pdt DrJ.M.Pattiasina
Ketua Umum Sekretaris Umum

Tembusan disampaikan kepada yang terhormat:
1. Presiden Republik Indonesia di Jakarta
2. Wakil Presiden Republik Indonesia di Jakarta.
3. Ketua DPR RI di Jakarta
4. Para Wakil Ketua MPR RI dan DPR RI di Jakarta
5. Panglima TNI di Jakarta
6. KAPOLRI di Jakarta
7. Pimpinan Panja Maluku
8. Gubernur/KDH Tingkat I Maluku Utara di Ambon
9. Care-taker Gubernur Maluku Utara di Ternate
10. Ketua KWI di Jakarta
11. Pimpinan Gereja-gereja Anggota PGI di tempatnya masing-masing
12. Pimpinan PGI Wilayah di tempatnya masing-masing
13. Pimpinana PGPI, PII, GBI
14. Pimpinan Lembaga-lembaga Keumatan di Jakarta
15. Para Anggota MPH-PGI di tempatnya masing-masing
16. Dirjen Bimas (Kristen) Protestan Departemen Agama RI
17. Dirjen Bimas Katolik Departemen Agama RI

Gereja orthodoks suriah

Diposting oleh gan

Lahirnya Gereja Syria

Gereja Syria diawali dari Yerusalem yang terdiri dari para Rasul Yesus Kristus, para penginjil dan orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen. Gereja ini kemudian berpindah ke kota Antiokhia, dan kemudian ke Urhoy (Eddesa) ditambah dengan orang-orang Aramia yang sudah bertobat dan bangsa-bangsa non-Yahudi yang lain. Gereja ini pertama kali didirikan di Antiokhia oleh Rasul Petrus, pemimpin para rasul, yang dianggap sebagai Patriarkh pertama dari Tahta Suci Rasuliah Antiokhia. Rasul Petrus sendiri menunjuk Mar Awwad (St. Avodius) dan Mar Ignatius Sang Pencerah sebagai para pengganti beliau. Mereka kemudian menggantikan tugas rasulinya setelah Rasul Petrus mati shahid di kota Roma. Kemudian, kota Antiokhia tidak saja menjadi Gereja Kristen yang pertama, tertua dan paling terkenal, tetapi juga menjadi dasar dari Kekristenan. Di kota Antiokhia-lah saat itu para rasul Yesus Kristus disebut sebagai orang-orang Kristen.

Doktrin Gereja Syria

Asas keimanan Gereja Orthodox Syria dapat diringkas sebagai berikut: Gereja ini percaya sepenuhnya akan Satu pribadi ganda Tuhan Yesus, dan satu sifat ganda yang terdiri dari dua sifat: yaitu ilahi dan insani, yang tidak dapat bercampur, tak dapat dipisahkan dan tak berganti-ganti. Dengan kata lain, dua sifat (ilahi dan insani) tergabung dalam satu sifat yang tanpa bercampur, tak terlebur dan tak berubah-ubah, tak berganti dan tak rancu. Batasan ini berlaku bagi semua sifat keilahian dan kemanusiaanNya. Berdasarkan definisi ini, keilahianNya menyatu dengan kemanusiaanNya, atau dengan tubuhNya, ketika Almasih disalibkan di salib, dan tidak pernah keilahianNya meninggalkan tubuhNya, bahkan untuk sedetik pun. Karena itu, salah besar dan sangat menyimpang dari iman Kristen yang universal bila orang mengatakan, “Kristus itu disalibkan tubuhNya saja.” Tetapi sebaiknya dikatakan, “Firman Allah yang telah menjelma itu adalah Tuhan Yang Mahamulia yang telah disalibkan,” namun, kami mengatakan, “Ia telah menderita dan wafat dalam daging (dalam keadaannya sebagai manusia),” sebab keilahianNya tidak pernah tersentuh penderitaan dan kematiaan. Sebagai konsekuensinya, Maria adalah “Ibu dari Dia (Firman Allah yang telah menjelma) Yang Ilahi,” dan ungkapan “Engkau yang telah disalibkan bagi kami” adalah benar sebagaimana diucapkan dan diyakini dalam Trisagion, yang dialami oleh sifat kedua dariNya, yaitu Kristus. Asas iman inilah yang dipegang teguh oleh Gereja Syria Antiokhia dan Gereja Koptik Aleksandria yang telah menolak Konsili Kalsedonia dan dokumen Leo dari Roma (Buku besar yang disebut Surat Paus Leo), karena kami hanya mengakui dasar-dasar iman yang ditetapkan tiga konsili ekumenikal di Nikea tahun 325 Masehi, Konsili Konstantinopel tahun 381 Masehi dan Konsili Efesus 431 Masehi. Dari sini, nama “Orthodox” yang kami kenakan berarti “Iman Yang Benar” yang dikenal oleh ummat Syrian, Koptik, Armenia dan Ethiopia. Gereja-gereja itulah yang disebut sebagai “sister Churches” (Gereja-gereja saudari mereka). Mereka bersama-sama telah mengalami berbagai penderitaan dan penganiayaan-penganiayaan yang kejam yang ditujukan kepada mereka oleh Kaisar Byzantium panganut Konsili Kalsedon tersebut.


Liturgi Bahasa Arami

Tidak bisa disanggah lagi bahwa bahasa yang diucapkan Yesus dan banyak generasi sebelum Masehi dan oleh Kekristenan mula-mula, dan sampai abad ke-5 Masehi adalah bahasa Arami (Syriac). Selain itu, orang-orang Yahudi telah menulis beberapa bagian kitab suci mereka dalam bahasa Arami atau dalam aksara Arami, sebagaimana dibuktikan oleh gulungan-gulungan kitab dari Laut Mati yang ditemukan pada tahun 1974 oleh Yang Mulia Mar Athanasius Yashu Samuel, yang saat itu menjadi Uskup di Yerusalem (sekarang sebagai Uskup untuk Amerika Serikat dan Canada). Maka terbukti bahwa para murid Yesus dan para penerus mereka menggunakan bahasa Syria (Arami). Maka, hanya dapat dipahami bahwa ibadah liturgis mereka dilakukan dalam bahasa Syria (Arami). Sebab para penginjil yang memberitakan Injil di Anthiokhia yang berasal dari Yerusalem itu beribadah dalam bahasa Syria (Arami), maka sudah tentu bahasa Syria (Arami) itu menjadi bahasa Liturgi gereja Anthiokhia, dan gereja ini memakai liturgi dalam bahasa Syria (Arami) yang disusun oleh Rasul Yakobus, saudara Tuhan Yesus sekaligus sebagai uskup pertama di Yerusalem. Semua orang tahu bahwa gereja di Yeruselam menggunakan Liturgi Rasul Yakobus sampai berakhirnya ketujuh-belas uskup Syria yang pertama. Namun, ketika para duta dari Konstantinopel mulai merebut kepemimpinan gereja di Antiokhia, mereka menggantikan Liturgi Rasul Yakobus dengan Liturgi Basilius dari Kaisarea (379 Masehi) dan Liturgi John Chrysostom (407 Masehi), yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arami. Tetapi, Liturgi Rasul Yakobus sendiri tetap ada di gereja Antiokhia. Itu sebabnya maka Liturgi Syria (Arami) disebut sebagai Liturgi Antiokhia. Dari Liturgi ini maka dapat dilacak kembali asal-muasal semua liturgi gereja. Karena itu, Gereja Antiokhia sangat bangga bahwa Liturgi mereka menggunakan bahasa Syria (Arami), yaitu bahasa yang telah dikuduskan oleh lidah suci Tuhan kita, dan yang dihormati oleh lidah Maria, IbuNya dan oleh para rasulNya yang kudus. Dalam bahasa inilah Rasul Matius menuliskan Injil, dan dalam bahasa inilah Injil diwartakan pertama kali di Yudea, Syria dan daerah-daerah sekitarnya.


Baktinya bagi Injil

Gereja Syria menjalankan peranan penting dalam bidang literatur Alkitab. Para sarjana mereka mengakar dalam lautan misteri Alkitab yang begitu luas dan tak terungkapkan. Merekalah yang pertama kali menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Syria (Arami), bahasa mereka sendiri. Kemudian, mereka melakukan pengkajian-pengkajian yang mendalam yang memperkaya perpustakaan-perpustakaan di Timur dan Barat dengan berjilid-jilid buku pelajaran dan tafsir Alkitab yang tak terhitung jumlahnya sekalipun malapetaka dan nasib buruk menimpa tanah kelahiran mereka, sehingga menyebabkan banyak kerugian karena Perang Dunia I, dan karena pemusnahan ribuan buku manuskrip kitab-kitab suci yang tak ternilai harganya itu oleh para musuh mereka. Setelah mereka mempelajari Alkitab dalam bahasa Arami mereka sendiri, maka mereka melakukan usaha-usaha tanpa lelah dengan menterjemahkan karya-karya tulis mereka itu ke dalam bahasa-bahasa lain. Maka sekitar tahun 404 Masehi, Malphan Daniel orang Syria serta Mesroph orang Armenia itu bekerja sama menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Armenia. Sarjana bahasa Arami yang berasal dari Arabia dari banu Thayy, Tanukh dan banu Aqula (Al-Kuufa) menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Arab atas perintah Patriarkh Syria, Mar Yuhanna II, demi memenuhi permintaan Umair Ibnu Saad ibn Abi Waqqass Al-Anshari, raja di Jaziratul Arabia. Yuhanna bar Yawsef, seorang imam Syria dari kota Taphliss (selatan Rusia), menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Persia pada tahun 1221 Masehi. Pada dasawarsa pertama di abad ke-19, Raban Philipos orang Syria dari Malabar, India, telah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Malayalam, bahasa yang dipakai di India Selatan. Pada abad lalu, abad ke-20, Chorepiscopus Mattay Konat orang Syria dari Malabar, telah menterjemahkan seluruh Perjanjian Baru kecuali kitab Wahyu, ke dalam bahasa Malabar.


Sejumlah besar manuskrip dari warisan gereja ini yang tak ternilai artinya masih tetap dilestarikan. Manuskrip-manuskrip itu termasuk yang tertua di dunia, khususnya yang dipindahkan dari perbendaharaan Biara Gereja Syria di Mesir dan kemudian dibawa ke perpustakaan-perpustakaan Vatican, London, Milan, Berlin, Paris, Oxford, Cambridge dan perpustakaan-perpustakaan lain. Beberapa di antara manuskrip-manuskrip itu ditulis pada abad kelima dan keenam Masehi. Kemudian versi Injil yang tertua adalah manuskrip Injil dalam bahasa Syria (Arami) yang ditulis oleh seorang rahib dari kota Eddesa (Urhoy atau Urfa), yaitu Ya’qub Al-Urfa, di Urhoy pada tahun 411 Masehi. Injil dalam bahasa Arami ini masih disimpan di British Museum. Dalam kaitan ini, Abuna Martin telah menghimpun 55 manuskrip Injil berbahasa Arami yang berasal dari abad kelima, keenam dan ketujuh Masehi, jumlah yang cukup besar bila dibandingkan dengan 22 manuskrip Injil dalam bahasa Latin dan hanya 10 buah manuskrip Injil dalam bahasa Yunani. Gereja Syria Orthodox sangat teguh dalam kecintaan mereka akan Alkitab sehingga mereka berusaha menuliskan dan menghiasi Alkitab itu seindah mungkin. Mereka menggunakan huruf kaligrafi Estrangela dan Serta Barat. Di antara manuskrip terbaik yang terkenal adalah Injil yang ditulis oleh Patriarkh Rabuula dari Urhoy (Eddesa atau Urfa) yang diselesaikannya pada tahun 586 Masehi.

Kegiatan Penginjilan

Orang-orang Kristen Syria telah membawa obor Injil pertama kali ke seluruh daerah Timur. Bangsa-bangsa di Timur telah dibimbing oleh terang Injil untuk mengenal Kristus, sehingga beribu-ribu orang dari berbagai bangsa dan negara, yaitu bangsa-bangsa Arab dari berbagai suku, bangsa Persia, Afghan, India dan China. Mereka telah mengambil bagian dalam mewartakan Injil kepada bangsa Armenia. Pada abad keenam, orang-orang Suryani itu telah membawa kepada penggembalaan Kristus sejumlah besar warga bangsa Ethiopia dan Nubia melalui jerih lelah Abuna Yulian, dan sejumlah 70 – 80 ribu orang dari Asia Kecil, Qarya, Phrygia, dan Lydia melalui jerih lelah Mar Yuhanna dari Amed, yaitu uskup termasyhur dari Efesus. Syria (Arami) adalah bahasa liturgi dari seluruh gereja Timur selain digunakan bahasa-bahasa berbagai asal kebangsaan mereka. Gereja Armenian, misalnya, selain memakai bahasa Syriac (Arami) sehingga karena menggunakan bahasa ini mereka telah dikucilkan (oleh Gereja-gereja Byzantium), mereka menulis bahasa Armenia mereka dalam aksara Syria (Arami), sampai akhirnya Meshrope, salah seorang dari sarjana mereka, bekerja sama dengan Malfan Daniel orang Syria itu, akhirnya ia menjadi penemu aksara Armenia.

BY GAN

P.I di SUMATERA

Diposting oleh gan

Pekabaran Injil dan Gereja di Nias dan Pulau-pulau Lain Lepas Pantai Sumatera (1865-sekarang) PDF Print E-mail

Keadaan umum

Yang terbesar dan paling padat pendudukknya di antara pulau-pulau lepas pantai barat Sumatera ialah Pulau Nias (kini sekitar 550.000). Pulau ini, sama seperti kepulauan Batu, pulau Enggano, dan kepulauan Mentawai, baru dijajah orang Belanda sekitar tahun 1900. Sebelumnya, Belanda hanya menguasai daerah di sekeliling Gunung Sitoli. Penduduknya, khususnya di pulau Nias, tidak menjadi pelaut, tetapi hidup dari usaha bercocok-tanam (Nias) atau dari pemberian alam (Mentawai). Maka masyarakatnya bersifat tertutup dan adat serta agama turun-temurun berpengaruh besar. Di semua pulau itu terdapat sejumlah pendatang dari Sumatera Barat yang beragama Islam. Daerah Nias Utara berbeda dari Nias Selatan dalam hal logat bahasa dan adat.

Permulaan usaha pI

Akibat perang Hidayat (§ 23), sekitar tahun 1860 beberapa tenaga RMG kehilangan tempat kerja. Salah seorang di antara mereka bernama E.L. Denninger. Sebelum diutus ke Kalimantan ia pun telah menjadi tukang sapu cerobong asap rumah-rumah di Berlin. Oleh Pengurus RMG di Barmen, Denninger disuruh pergi ke tanah Batak, tetapi karena istrinya sakit ia terpaksa tinggal di Padang. Di sana ia menjalin hubungan dengan orang-orang Nias di perantauan. Namun, ia sampai ke kesimpulan bahwa lebih bermanfaat kiranya kalau pergi ke Nias sendiri. Pada tanggal 27 September 1865 Denninger mendarat di Gunung Sitoli. Sebelumnya dua Misionaris (Katolik) bangsa Perancis pernah bekerja di Nias (1832-1835), namun karya mereka tidak meninggalkan hasil yang nyata.

Perluasan sampai tahun 1890

Selama 25 tahun pertama (1865-1890), usaha pI di Nias tetap terbatas pada daerah kekuasaan Belanda di sekitar Gunung Sitoli di pantai timur. Pada hari raya Paskah 1874, pertama kali dilayankan sakramen baptisan kepada 25 orang Nias. Pada tahun 1890 jumlah orang Kristen telah meningkat menjadi 706 jiwa. Meskipun demikian, dalam masa itu telah diciptakan sarana-sarana yang memungkinkan perluasan di kemudian hari. Pertama, orang Kristen Nias telah belajar untuk ikut aktif mengabarkan Injil. Salah seorang tokoh Nias yang berperanan besar dalam usaha pI ialah kepala kampung, Ama Mandranga. Di samping itu, terdapat guru-guru serta penatua-penatua yang diangkat oleh zendeling. Pada tahun 1882 didirikan sebuah lembaga pendidikan guru. Tetapi menonjollah bahwa penduduk Nias kalau meminta tenaga penginjil, lebih mengharapkan kedatangan seorang zendeling bangsa Eropa daripada tenaga sesuku mereka. Namun, para zendeling sadar akan peranan penting pembantu-pembantu mereka itu, sehingga mereka tetap berupaya meningkatkan wewenang pembantu itu di mata orang Nias. Pun upaya supaya jemaat-jemaat Nias menjadi swadaya telah dimulai agak dini. Sarana yang hendak disebut terakhir ialah penerjemahan Alkitab dan buku-buku lain ke dalam bahasa Nias (Utara) oleh pekabar Injil H. Sundermann, dengan bantuan Ama Mandranga dan beberapa orang Nias lannya (Injil Lukas, 1874; PB, 1891).

Perluasan 1891-1916

Dalam masa 25 tahun berikutnya, usaha pI maju dengan lebih cepat dan sarana-sarana tersebut di atas diperluas. Sebelum perluasan wilayah kekuasaan Belanda berlangsung, zending sudah maju ke Nias Barat (1892) dan Tengah (1895). Sebaliknya, daerah Nias Selatan dan Utara baru dapat ditempati pekabar Injil setelah ditaklukkan oleh gubernemen. Jumlah orang Kristen meningkat dari 706 menjadi 20.000 pada tahun 1915. Sementara itu, para zendeling menambahkan pada jumlah para guru dan penatua menjadi hampir 500. Diciptakannya pula jabatan sinenge ("rasul"), yang melayani jemaat-jemaat yang tidak mempunyai sekolah. Pada tahun 1906 ditahbiskanlah pendeta Nias yang pertama. Terjemahan seluruh Alkitab selesai dicetak pada tahun 1913. Bidang kegiatan para zendeling luas sekali: mereka membangun jalan-jalan, mendirikan bank tabungan, membuka kebun-kebun kopi, semua dalam rangka melicinkan jalan bagi usaha pI dan meningkatkan daya ekonomi jemaat Kristen. Berkat usaha mereka di bidang kesehatan, jumlah orang Kristen meningkat oleh pertumbuhan alamiah (masih terlepas dari masuknya orang yang bukan Kristen), sedangkan jumlah penduduk pulau Nias dalam keseluruhannya menurun akibat penyakit-penyakit menular. Dalam pada itu, para zendeling masih kurang senang melihat keadaan jemaat secara batin: penyalahgunaan minuman keras, kekacauan di bidang perkawinan, keengganan untuk memberi sumbangan berupa uang atau benda bagi kehidupan jemaat, masih merajalela. Pun mayoritas orang Nias tetap menolak Injil. Kata seorang zendeling. "Saya merasa bagaikan ular yang berusaha menggigiti besi".

Kebangunan besar

Lalu berlangsunglah gerakan yang, melihat luasnya dan sifatnya yang khas, boleh dikatakan unik (tiada bertanding) dalam sejarah Gereja. Gerakan itu bertolak di jemaat Helefanicha, dekat Humene. Pada tahun 1916 seorang anggota jemaat terpukau oleh Firman Tuhan yang telah didengarnya di gereja. Di dalam hatinya bertumbuh kesadaran bahwa dirinya tidak layak hadir di hadapan Allah dan bahwa karena dosanya tak mungkin ia masuk ke Kerajaan Allah, tetapi harus dibuang ke neraka. Oleh karena itu, orang tersebut menangis terus-menerus. Karena diduga sakit, teman-temannya membawa dia kepada zendeling di Humene. Tetapi zendeling itu berasal dari kalangan pietis di Jerman, sehingga gejala tersebut tidak asing baginya. Maka dinyatakannya bahwa orang yang bersangkutan bukannya sakit, apalagi sakit jiwa, melainkan berbuat demikian karena menyesali dosanya dan bahwa penyesalan itu telah dikerjakan Tuhan di dalam hatinya. Lalu ditegaskannya kepada orang itu, bahwa ia harus membenahi hubungannya dengan orang-orang yang terhadapnya ia telah bersalah. Tetapi ketika orang yang menyesal itu berbuat demikian maka orang lain, yang kepadanya dimintanya ampun, mulai menangis pula karena menyadari dosanya sendiri. Peristiwa itu terulang terus, sehingga makin banyak orang yang terkena. Para zendeling dan penghantar jemaat kewalahan melayani semua orang yang datang kepada mereka memohon bimbingan. Orang-orang itu baru menjadi tenang setelah dalam hati mereka mendapat tanda yang memastikan keampunan dosa kepada mereka. Setelah dengan demikian mereka dibebaskan dari beban dosa, wajah mereka bersinar karena gembira, dan mereka menempuh kehidupan baru.

Hasil-hasilnya

Kebangunan yang berlangsung selama sepuluh tahun lebih itu membawa hasil besar bagi kehidupan jemaat, untuk perseorangan dan untuk persekutuan. Orang menghayati agama Kristen secara lebih mendalam; kabar kesukaan tentang keampunan dosa telah menjadi kenyataan hidup bagi mereka. Pergaulan antara sesama anggota jemaat menjadi santai, bebas, tidak lagi dibuat kaku oleh kenangan akan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh anggota yang satu terhadap yang lain. Kehidupan persekutuan jemaat diperkaya, sebab, daripada bersikap pasif sambil menunggu tindakan penghantar jemaat, kini anggota jemaat ikut serta dalam segala macam kegiatan persekutuan. Berbagai karunia menyatakan diri, seperti karunia kenabian (1 Kor. 12:10), penyembuhan melalui doa, mimpi-mimpi, keadaan ekstatis. Lahirlah juga sejumlah besar lagu gereja yang baru. Orang melakukan doa syafaat yang satu untuk yang lain. Kuasa adat berkurang. Anggota jemaat bergairah mengabarkan Injil kepada yang belum menerimanya dan mereka ini tertarik pula oleh kehidupan jemaat yang penuh anugerah itu, sehingga jumlah orang Kristen berlipat ganda, dari 20.000 (1915) menjadi 85.000 (1929). Sejumlah anggota jemaat yang berbakat dan giat dapat diangkat menjadi sinenge (guru Injil). Haruslah diakui bahwa di tengah suasana yang penuh emosi itu adakalanya terdapat pula gejala-gejala yang negatif, seperti pembunuhan diri karena putus asa, pemusnahan barang karena hari akhirat dianggap sudah dekat, munculnya nabi-nabi palsu.

Hasil jangka panjang

Sesudah sepuluh tahun, gerakan kebangunan yang besar itu mereda. Lalu dalam banyak hal keadaan semula berlaku kembali. Jemaat kembali menjadi pasif, kerelaan berkorban bagi kehidupan jemaat menghilang lagi, disiplin gereja perlu diterapkan lagi, adat kembali berkuasa di atas hukum Kristen (khususnya dalam hal mas kawin/jujuran yang terlalu tinggi). Dalam dasawarsa-dasawarsa yang kemudian, sebagian dari massa yang masuk Kristen malah memisahkan diri atau berhasil ditarik oleh misi Katolik. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh karena kecilnya jumlah para zendeling dan tenaga terdidik bangsa Nias, sehingga sebagian besar orang Kristen yang baru itu tidak sempat menerima pengajaran secara intensif tentang iman Kristen. Setelah luapan emosi berhenti, agaknya tidak ada pengetahuan serta pengalaman Kristen yang dapat menjadi patokan pada jalan yang ditempuh, sehingga kesimpangsiuran tidak bisa dielakkan. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa peristiwa kebangunan besar kebangunan besar (bahasa Nias: fangesa sebu´a) itu ada pula hasilnya yang tetap. Seperti yang dikatakan seorang Nias, "Injil yang tadinya baru sampai ke kulit kami, kini telah masuk ke dalam hati kami. Seandainya bapak-bapak meninggalkan kami pada tahun 1914 (tahun permulaan Perang dunia I), maka mungkin agama Kristen akan hilang lagi dari Nias. Kini Injil akan tetap tinggal di pulau kami."

Gereja berdiri sendiri (1930/40)

Setelah gerakan kebangunan mereda, para zendeling mulai memikirkan kemandirian gereja. Pada tahun 1936 selesailah mereka merancangkan tata gereja. Lalu diadakan sinode Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) yang pertama (November 1936). Sinode itu menerima tata gereja yang telah dirancangkan. Keinginan Pengurus RMG di Barmen supaya semua pekabar Injil bangsa Eropa otomotis menjadi anggota sidang sinode dipenuhi; sebaliknya para zendeling menolak permintaan orang Kristen Nias, agar setiap distrik gereja diperbolehkan mengutus seorang tokoh masyarakat (seorang kepala suku) ke sinode sebagai anggota yang berhak penuh. Pada tahun 1940, semua zendeling bangsa Jerman ditawan oleh gubernemen (§ 41,42). Maka fungsi ketua sinode (Ephorus) diambil alih oleh serang pendeta Nias, bernama Atefona Harefa. pada tahun 1942, para pendeta Belanda yang telah menggantikan orang Jerman yang ditawan itu diinternir pula oleh penguasa Jepang. Maka gereja harus benar-benar berdiri sendiri. Barulah pada tahun 1951 seorang utusan zending dari Jerman (seorang dokter) kembali bekerja di Nias, disusul oleh sejumlah orang Eropa yang lain. Namun, kedudukan mereka ini berbeda dengan kedudukan para zendeling sebelum perang: mereka mendapat status "penasihat".

Gerakan kebangunan baru

Setelah kebangunan mereda, rasa rindu akan terulangnya pengalaman yang hebat itu tidak pernah hilang lagi. Dalam tahun ´30-an, dan terutama pada masa perang yang penuh sengsara itu, timbullah gerakan-gerakan baru yang serupa. Hanya, yang menjadi pusat perhatian dalam gerakan-gerakan ini bukanlah pengampunan dosa, melainkan karunia-karunia Roh dan mukjizat-mukjizat. Terdapat karunia bercakap-bercakap dengan bahasa roh (karunia lidah); di dalam ibadah orang secara mendadak mulai gemetar atau berseru-seru (gejala ekstase). Daripada memperkuat persekutuan gereja, gerakan-gerekan ini mengoyak-ngoyakkannya, sebab menjadi biang perpisahan. Gelombang pertama gerakan kebangunan telah menjadikan BNKP sebagai gereja-rakyat di Nias, tetapi gelombang berikutnya merusak kesatuan gerejawi di pulau itu.

Gereja-gereja di samping BNKP

Pada tahun 1933 gerekan Fa´awosa (=persekutuan) mulai memisahkan diri dari pimpinan zending (kemudian BNKP), karena penganutnya menganggap harus mematuhi suara yang langsung diterimanya dari Roh lebih daripada aturan gerejawi. Setelah melepaskan diri dari induk maka kelainan-kelainan yang muncul tidak mungkin lagi diimbangi pengaruh dari saudara Kristen yang berpendapat lain; akibatnya dalam gerakan Fa´awosa itu (yang kemudian pecah menjadi beberapa kelompok) unsur-unsur agama Kristen semakin tercampur dengan unsur-unsur Islam dan agama suku. Pada tahun 1946 berdirilah kelompok lain, yaitu Angowuloa Masehi Idanoi Niha (kemudian namanya diubah menjadi: Agama Masehi Indonesia Nias, kemudian lagi: Gereja Angowuloa Masehi Indonesia Nias, AMIN juga). Akar perpecahan ini bukanlah gerakan kebangunan, melainkan soal wewenang para kepala suku di dalam gereja, yang muncul pada tahun 1936 itu. Dalam gereja AMIN pengaruh kepala suku itu besar. Hal ini mengingat kita akan bentuk gereja dalam lingkungan suku-suku German di Eropa (tahun 500-1000). Pada tahun 1950 sekali lagi segolongan orang Kristen di Nias Barat memisahkan diri dari BNKP, dengan nama Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP). Dalam hal ini soal kedaerahan memainkan peranan disamping unsur kebangunan. Di Nias Selatan, unsur kedaerahan itu ditampung juga oleh misi Katolik Roma, yang mulai bekerja di situ pada tahun 1939. Baik ONKP maupun gereja Katolik Roma kemudian meluas ke seluruh wilayah pulau Nias sambil menyaingi BNKP. Namun, pada akhir abad ke-20 BNKP tetap merupakan gereja mayoritas penduduk Nias, dengan jumlah anggota ± 325.000 (60% penduduk pulau Nias). Di antara gereja-gereja yang telah memisahkan diri dari BNKP, tiga telah diterima menjadi anggota PGI, yaitu AMIN (18.000 anggota), ONKP, dengan 60.000 anggota, dan Gereja Angowuloa Fa´awosa Kho Yesu (AFY, 32.000 anggota). Gereja Katolik Roma di Nias berjumlah 90.000 jiwa.

Kepulauan Batu, Mentawai

Penduduk kepulauan Batu sebagian besar terdiri dari suku yang serumpun dan sebahasa dengan penduduk Nias. Usaha pekabaran Injil dimulai pada tahun 1889 oleh Lembaga pI Lutheran di Negeri Belanda (§ 30). Pada masa perang, gereja di situ berdiri sendiri di bawah pimpinan seorang kepala suku; seusai perang orang Kristen di Kepulauan Batu bergabung dengan BNKP. Mengenai permulaan karya pI di Mentawai terdapat kisah sebagai berikut. Menjelang tahun 1900, pimpinana RMG di Barmen mendapat kiriman sebilah tombak, yang disertai surat dari syahbandar Padang (seorang Belanda), "Dengan tombak ini orang Mentawai telah membunuh seorang awak kapal dagang. Penduduk pulau itu masih orang kafir yang buas semua. Masih berapa lama lagi sampai mereka sempat medengar Injil?" Dengan demikian RMG tergugah untuk mengutus seorang zendeling, August Lett (1901). Ia ini dibunuh pada tahun 1909, pada saat hendak mengantarai pertempuran yang mengancam antara penduduk Mentawai dengan pasukan Belanda (bnd. § 39). Dengan bantuan guru-guru serta pendeta-pendeta Batak, di masa kemudian berhasil didirikan sejumlah jemaat. Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM) berdiri sendiri pada tahun 1968. Walaupun dihimpit oleh usaha yang kuat dari pihak Islam dan misi KR, namun kini (1997) gereja ini meliputi 75% penduduk Mentawai, yaitu 24.000 jiwa lebih.

Artikel ini diambil dari :
End, Dr. Th. van den. 2001. Ragi Carita 2. PT BPK Gunung Mulia, Jakarta. Halaman 211-217.

BY GAN